Inspirasi
Beranda » Berita » Hangat Pagi di Balik Apang Pella

Hangat Pagi di Balik Apang Pella

Pagi datang pelan, dan di meja keluarga itu, sepiring kue khas Bugis bernama Apang Pella menjadi alasan orang-orang duduk sedikit lebih lama.

Tidak ada acara besar.

Tidak ada panggung.

Hanya pagi yang sederhana, keluarga yang berkumpul, dan kue tradisional yang diletakkan di tengah meja seperti sesuatu yang akrab, tapi tetap selalu dirindukan.

Apang Pella pagi ini hadir bukan sekadar sebagai makanan.

Babinsa Jajaran Kodim 1420/Sidrap Gelar Safari Sholat Subuh Berjamaah di Wilayah Binaan

Ia menjadi pengantar percakapan kecil di sela udara yang masih lembut.

Ada yang mengambil satu potong lebih dulu.

Ada yang menunggu sambil tersenyum.

Ada pula yang hanya memandangi kue itu sebentar, seolah sedang mengingat pagi-pagi lama di rumah orang tua, di dapur nenek, atau di kampung yang aromanya kadang datang kembali lewat makanan.

Kue khas Bugis memang sering punya cara sendiri untuk mengikat keluarga.

Ia tidak perlu banyak kata.

Cukup diletakkan di piring, lalu orang-orang mendekat.

Di pagi seperti ini, Apang Pella terasa menjadi bagian dari kebiasaan yang tidak ribut, tetapi kuat.

Kue itu dinikmati bersama keluarga dalam suasana yang hangat dan dekat.

Obrolan mengalir ringan.

Bukan obrolan besar tentang hal-hal jauh.

Kadang hanya tentang rasa kue, tentang siapa yang dulu paling sering membuatnya, atau tentang pagi yang terasa lebih enak ketika makanan tradisional masih sempat hadir di meja rumah.

Anak-anak biasanya mengenal kue seperti ini dari cerita orang dewasa.
Mereka melihat bentuknya, mencicipinya, lalu mendengar penjelasan singkat bahwa ini adalah kue khas Bugis.

Dari sana, ingatan kecil mulai tumbuh.

Mungkin belum lengkap.

Mungkin hanya sebatas rasa manis di lidah dan suasana rumah yang ramai pelan.

Tetapi suatu hari, kenangan seperti itu bisa kembali menjadi cerita.

Di banyak keluarga Bugis, makanan tradisional tidak hanya disajikan untuk mengenyangkan perut.

Ia sering datang bersama nilai yang diwariskan diam-diam.

Tentang duduk bersama.

Tentang memberi ruang bagi yang tua untuk bercerita.

Tentang yang muda belajar mengenali asal-usulnya tanpa merasa sedang diberi pelajaran.

Pagi ini, semua itu terasa sederhana.

Apang Pella tidak berdiri sebagai simbol yang dibuat-buat.

Ia hadir apa adanya.

Sebagai kue yang dimakan bersama.

Sebagai bagian kecil dari rumah.
Sebagai alasan untuk memperlambat langkah sebelum hari benar-benar dimulai.
Di luar, pagi mungkin sudah bergerak.

Orang-orang bersiap dengan urusannya masing-masing.

Ada pekerjaan yang menunggu.

Ada perjalanan yang harus ditempuh.

Ada banyak hal yang nanti akan membuat waktu terasa sempit.
Namun di meja keluarga itu, pagi seperti diberi jeda.

Beberapa menit cukup untuk saling menoleh, saling menyapa, dan menikmati kue yang sejak lama hidup dalam ingatan masyarakat Bugis.

Kebersamaan seperti ini tidak selalu lahir dari peristiwa besar.
Kadang ia muncul dari hal paling dekat.

Dari piring kecil.

Dari kue tradisional.

Dari tangan yang menyodorkan makanan kepada anggota keluarga lain.

Dari tawa pendek yang muncul karena cerita lama tiba-tiba disebut lagi.

Apang Pella pagi ini mengingatkan bahwa tradisi tidak selalu harus dirayakan dengan cara yang meriah.

Kadang, ia cukup dijaga dengan cara dimakan bersama.

Cukup dikenalkan kepada anak-anak.

Cukup dihadirkan kembali di meja rumah, agar rasanya tidak hilang dari hari-hari keluarga.

Saat potongan terakhir mulai berkurang, pagi tetap berjalan seperti biasa.

Tetapi ada yang tertinggal dengan tenang.

Rasa hangat dari pertemuan keluarga.

Dan ingatan kecil bahwa kue khas Bugis bernama Apang Pella masih punya tempat di rumah, di lidah, dan di cerita orang-orang yang menjaganya.(Hsn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement